Animal Science

Beranda » Ilmu Kesehatan Masyarakat » Resident dan Transient Mikroorganisme

Resident dan Transient Mikroorganisme

Flora normal yang menempati kulit terdiri dari dua jenis yaitu flora normal atau mikroorganisme sementara (transient microorganism) dan mikroorganisme tetap (resident microorganism). Flora transient terdiri atas mikroorganisme non patogen atau potensial patogen yang tinggal di kulit atau mukosa selama kurun waktu tertentu (jam, hari atau minggu), berasal dari lingkungan yang terkontaminasi (Rahmawati dan Triana 2008). Adi dkk. (2010), mengemukakan bahwa mikroorganisme transient terdiri dari mikroorganisme nonpatogen yang berpotensi untuk menjadi pathogen. Flora ini pada umumnya tidak menimbulkan penyakit (mempunyai patogenisitas lebih rendah) dan jumlahnya lebih sedikit dibandingkan flora tetap. Pada kondisi terjadi perubahan keseimbangan, flora transient dapat menimbulkan penyakit (Trampuz & Widmer 2004; Jawetz et al. 2005 dalam Rahmawati dan Triana 2008). Jika terdapat gangguan pada resident flora, maka mikroorganisme transient dapat berpoliferasi dan menimbulkan penyakit (Adi dkk. 2010).

The Association for Professionals in Infection Control (APIC) dalam Rahmawati dan Triana 2008) memberikan pedoman bahwa mikroorganisme transien adalah mikroorganisme yang diisolasi dari kulit, tetapi tidak selalu ada atau menetap di kulit. Mikroorganisme transien, yang terdiri atas bakteri, jamur, ragi, virus dan parasit, terdapat dalam berbagai bentuk, dari berbagai sumber yang pada akhirnya dapat terjadi kontak dengan kulit. Biasanya mikroorganisme ini dapat ditemukan di telapak tangan, ujung jari dan di bawah kuku. Kuman patogen yang mungkin dijumpai di kulit sebagai mikroorganisme transien adalah Escherichia coli, Salmonella sp, Shigella sp, Clostridium perfringens, Giardia lamblia, virus Norwalk dan virus hepatitis A (Synder 1988; dalam Rahmawati dan Triana 2008).

Mikroorganisme resident terdiri dari mikroorganisme yang sering ditemukan di kulit dengan tipe yang relatif sama yang ditemukan pada epidermis dan celah kulit, melekat lebih kuat pada oermukaan kulit dan sulit untuk dilepaskan. Mempunyai fungsi untuk mempertahankan keadaan dan fungsi normal tubuh (Adi dkk. 2010). Menurut Jawetz et al, dalam Rahmawati dan Triana (2008), flora resident (tetap) terdiri atas mikroorganisme jenis tertentu yang biasanya dijumpai pada bagian tubuh tertentu dan pada usia tertentu pula, jika terjadi perubahan lingkungan, mereka akan segera kembali seperti semula. Adanya lemak dan kulit yang mengeras membuat flora tetap sulit lepas dari kulit meskipun dengan surgical scrub. Oleh karena itu, dokter ahli bedah diharuskan memakai sarung tangan, salah satu alasannya adalah karena tidak mungkin menghilangkan semua flora atau mikroorganisme yang terdapat di kulit.

Flora resident (tetap) yang paling sering dijumpai adalah Staphylococcus epidermidis dan stafilococcus koagulase negatif lainnya, Corynebaterium dengan densitas populasi antara 102 – 103 CFU/cm2 (Trampuz & Widmer 2004 dalam Rahmawati dan Triana, 2008). Flora resident tidak bersifat patogen, kecuali Staphylococcus aureus. Bakteri ini dapat menyebabkan penyakit jika telah mencapai jumlah 1.000.000 atau 106 per gram, suatu jumlah yang cukup untuk memproduksi toksin (Snyder, cit. Snyder, 2001 dalam Rahmawati dan Triana 2008). Flora anaerobik seperti Propionibacterium acne, tinggal di lapisan kulit lebih dalam, dalam folikel rambut, kelenjar keringat dan kelenjar sebasea (Strohl, et al., 2001 dalam Rahmawati dan Triana 2008) P. acne menempati bagian kulit yang berminyak. Sedikit populasi jamur (Pityrosporum) juga ditemukan sebagai mikroorganisme tetap. Jenis dan jumlah mikroorganisme tetap bervariasi dari satu individu ke individu lainnya dan berbeda di antara regio tubuh. Sebagian besar mikroorganisme tetap tidak berbahaya (Synder 1988; Strohl et al. 2001 dalam Rahmawati dan Triana 2008).

Bahan Bacaan

Adi HD, Rahmi HA, Tanjung FA, Tiksnadi B, Mustapa. 2010. Pemeriksaan Kuman Sebelum dan Sesudah Pencucian Tangan. Artikel. Bagian Ilmu Bedah Orthopaedi. Fakultas Kedokteran Universitas Padjadajran. Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung.

Rahmawati FJ, Triana SY. 2008. Perbandingan Angka Kuman pada Cuci Tangan dengan Beberapa Bahan Sebagai Standarisasi Kerja di Laboratorium Mikrobiologi Fakultas Kedokteran Universitas Islam Indonesia. Jurnal Penelitian & Pengabdian. Fakultas Kedokteran. Universitas Islam Indonesia Yogyakarta.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: